Bermedia Sosial Ternyata Bikin Depresi, Ini Faktanya

"Jika apa yang kamu harapkan tersebut tidak tercapai, maka akan timbul rasa sakit hati, menyalahkan diri sendiri, hingga depresi"
ilustrasi sosial media (net)

KLIKPOSITIF -- Adanya media sosial memang membantu menunjang segala aktivitas harian. Sayangnya, hal itu malah akan jadi bumerang jika penggunaan media sosial tidak disikapi dengan bijak.

Pasalnya, hormon dopamin dalam otak akan meningkat ketika kamu mengunggah sesuatu di media sosial terlebih jika apa yang diunggah itu memiliki banyak like dan komen positif.

Akibatnya akan timbul rasa kecanduan dan menginginkan unggahan selanjutnya mendapat lebih banya like dan komen. Disinilah bahaya media sosial, jika apa yang kamu harapkan tersebut tidak tercapai, maka akan timbul rasa sakit hati, menyalahkan diri sendiri, hingga depresi.

Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian pada tahun 2015 yang menjelaskan bahwa tekanan dari sosial media yang terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan gangguan kecemasan pada remaja. Bahkan 42 persen dari peserta penelitian mengalami stres karena mereka berlomba menampilkan foto terbaik untuk diunggah di sosial media.

Tak hanya itu, unggahan orang lain yang menampilkan foto kesuksesannya juga akan menimbulkan sikap iri hati yang melihatnya. Hal ini telah terbukti dalam sebuah penelitian tahun 2015 yang dilakukan oleh University of British Columbia.

Bukan tidak mungkin hanya karena jumlah like dan komen yang tidak lebih banyak dari unggahan sebelumnya atau unggahan orang lain, seseorang bisa menjadi sedih/murung.

Tak ada salahnya bermain sosial media. Tapi jika kamu sangat tergantung dengannya dan tidak bisa mengontrol emosi hanya karena jumlah komen, like atau unggahan orang yang memamerkan kesuksesannya, maka sebaiknya hindari penggunannya. (*)

sumber: HiTekno